school library

Tania

Februari 2013

 

“Bruk! Bruk!”

Lagi-lagi aku menjatuhkan buku-buku yang ada di rak perpustakaan sekolah ini. Kenapa sih aku ceroboh banget? Padahal aku sudah lama pakai kacamata, supaya mataku yang minus ini tidak terus-terusan mengacaukan segala hal yang aku lakukan. Tapi sepertinya mengacaukan memang sudah jadi kebiasaanku. Bahkan orang-orang yang ada di perpustakaan ini saja sepertinya juga sudah terbiasa dengan tingkah lakuku ini. Seperti dia, yang kali ini juga membantuku membereskan buku-buku yang kujatuhkan.

“Heh Tania! Matanya jangan dipakai buat belajar aja dong. Perhatikan yang lain juga. Hobi banget deh ngejatuhin buku. Kasihan kan bukunya.” Kata Rendi ketus sambil membantuku.

“Iya maaf. Kan aku tidak sengaja.” Jawabku tanpa berani memandang matanya.

“Nih udah beres. Lain kali kalau mau jalan konsentrasi. Jangan waktu ujian aja konsentrasinya.” Balas Rendi padaku sambil menyodorkan buku-buku yang telah tersusun ke tanganku.

“Makasih ya, Ren.”

“Iya sama-sama. Dah!” Balas Rendi dengan senyum kecilnya yang menyungging samar sambil melambaikan tangan kanannya.

Dan aku hanya bisa tertunduk malu akibat tingkah laku bodohku yang selalu saja terjadi kalau dia ada di perpustakaan ini.

Rendi adalah salah satu siswa di SMA St. Petrus, SMA yang sama denganku. Dia juga satu angkatan denganku. Tapi kami beda kelas dan jurusan. Aku di kelas XII IPA 2 dan dia di kelas XII IPS 1. Aku pertama kali melihat Rendy di acara MOS sekolah. Saat itu, dia dinobatkan sebagai adik kelas yang paling malas dan suka memberontak. Sedangkan aku dinobatkan sebagai adik kelas yang paling rajin dan langsung diajukan sebagai salah satu anggota pengurus OSIS. Dua penghargaan yang saling berlawanan satu sama lain. Dan mungkin tidak akan ada yang menyangka bahwa pada saat itulah aku merasakan hatiku seperti berdesir saat berdiri berdampingan dengannya.

Ya. Aku menyukainya. Sudah 2 tahun aku memendam rasa suka ini. Selama ini aku selalu menyembunyikannya dengan segala kesibukanku sebagai anggota pengurus OSIS dan olimpiade-olimpiade yang kuikuti. Tanpa ada satu orang pun yang menyadari bahwa mataku selalu mengekor kemanapun dia pergi. Dan disinilah aku sekarang. Perpustakaan tempat dia sering mengahabiskan waktu untuk tidur. Tempat dimana aku suka memandanginya berlama-lama tanpa ketahuan siapapun. Karena semua orang akan menyangka, seorang Tania Rahardja pergi ke Perpustakaan untuk belajar. Bukan untuk melihat Rendi Wijaya yang sedang tidur.

Sebagai seorang perempuan, tentu bukan hanya melihat dia saja yang aku inginkan. Aku juga ingin agar dia bisa melihatku. Makanya aku mengikuti banyak olimpiade. Dan hampir semua  olimpiade berhasil kumenangkan. Itu semua kulakukan agar ketika upacara bendera yang setiap hari senin dilakukakan, namaku dipanggil dan aku maju ke depan untuk menerima penghargaan sehingga dia dapat melihatku. Paling tidak dengan itu, dia dapat mengenaliku sebagai seorang Tania Rahardja yang berada satu sekolah dengannya. Tapi sepertinya dia lebih mengenalku sebagai Tania si ceroboh yang suka menjatuhkan buku di perpustakaan. Mungkin ini lebih baik, daripada dia sama sekali tidak mengenalku.

Lebih baik aku kembali melanjutkan belajarku untuk menghadapi UN nanti. Fokus!

Rendi

Tania.. Tania..

Sampai kapan sih ini anak berhenti bikin aku tergila-gila sama dia? Bahkan aku tetap suka saat dia ceroboh kayak tadi. Dia selalu berhasil menarik perhatian aku dimanapun dirinya berada. Seperti 2 tahun yang lalu dia menarik perhatianku pertama kali di perpustakaan itu.

***

Januari 2011

Aku diusir dari kelas karena ketahuan tidur waktu pelajaran matematika sedang berlangsung. Aku disuruh menulis tulisan ‘Saya berjanji tidak akan tidur didalam kelas lagi’ sebanyak 4 halaman double folio bergaris. Dan cuma perpustakaan tempat yang cocok buat aku melaksanakan hukumanku. Aku berharap di dalam perpustakaan cuma ada aku sendirian. Tapi aku salah. Ada dia di sana. Tania Rahardja sang siswi teladan SMA St. Petrus.

Oke, paling tidak cuma ada tambahan satu orang di perpustakaan ini. Lebih baik aku cepat-cepat menyelesaikan hukumanku daripada Ibu Rosy—guru matematika paling killer—menghasut Kepala Sekolah agar mengeluarkanku dari sekolah. Naik kelas XI aja belum sudah mau dikeluarkan saja. Lagipula suasana perpustakaan yang sepi sangat mendukung buat aku konsentrasi menulis. Karena saat aku masuk ke dalam perpustakaan ini, Tania Rahardja sang siswi teladan SMA St. Petrus ini sudah terlelap dalam tidurnya.

Dalam 1,5 jam aku sudah selesai mengerjakan hukumanku. Saatnya kembali ke kelas menyerahkan hukumanku. Tapi sampai aku selesai mengerjakan, Tania belum juga bangun. Aku mengira dia pingsan karena kecapekan belajar. Sebaiknya aku menghampirinya terlebih dahulu untuk melihat kondisinya. Apakah dia beneran pingsan atau memang masih tidur.

Dan ternyata aku menemukannya masih dalam keadaan tidur dan jelas sekali bukan pingsan. Kepalanya meniduri buku fisika yang sepertinya baru saja dia pelajari. Dasar orang pintar. Pasti dia disuruh belajar khusus di perpustakaan oleh Kepala sekolah agar dapat berkonsentrasi sehingga nanti dia bisa memenangi olimpiade fisika seperti baru-baru ini dia berhasil merebut juara satu olimpiade komputer. Guru-guru di sekolah ini memang berlaku tidak adil. Siswi teladan diberi kebebasan belajar dimanapun walaupun akhirnya dia salalahgunakan dengan tidur di sini. Sedangkan aku yang hanya siswa biasa langsung diberi hukuman, padahal baru tidur sebentar.

Tapi melihatnya tidur seperti ini lucu juga. Ini menandakan bahwa siswi teladan seperti diapun bisa ketiduran ketika belajar. Apalagi posenya saat ini lucu sekali. Pipi kanannya menekan buku fisika yang ada di bawahnya. Mulutnya setengah terbuka. Rambutnya yang terurai menghambur diatas meja. Dan matanya yang tertutup dengan kacamatnya yang bergeser. Semuanya terlihat sangat menggemaskan di mataku. Bagaimana ya kalau aku mengerjai siswi teladan ini sekali saja. Toh dia pasti tidak tahu kalau aku yang mengerjainya.

Maka aku ambil kacamatanya perlahan, agar ketika dia terbangun nanti dia tidak bisa melihat sekeliling dengan jelas. Setelah aku lepas kacamata tebalnya itu, aku dapat melihat wajah polos Tania. Entah kenapa hatiku berdesir begitu saja ketika melihat wajahnya tanpa kacamata tebalnya itu. Dadaku bergemuruh. Ada apa gerangan? Apa aku jatuh cinta? Bahkan saat ini aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak mengecup bibirnya yang mungil itu. Secepat kilat aku kecup bibirnya yang terasa manis. Semoga saja dia tidak menyadari bahwa aku baru saja mencuri ciuman darinya.

***

Februari 2013

Sejak saat itu aku semakin sering pergi ke perpustakaan untuk tidur ataupun hanya untuk sekedar melihatnya serius belajar. Aku menyukai apapun yang dilakukannya. Ketika dia mengambil buku. Ketika dia duduk. Ketika dia membaca. Dan paling suka ketika dia mengembalikan buku yang biasanya selalu diakhiri dengan kebiasaanya menjatuhkan buku. Karena saat itu jugalah aku dapat menampilkan sosokku di depannya yang mungkin tidak pernah mengenaliku. Paling tidak dia dapat melihat sisi baik dariku selain sebagai tukang tidur di perpustakaan.

Sampai kapan perasaanku ini akan kusembunyikan? Memang cinta tidak harus memiliki. Tapi cinta akan semakin sempurnya jika memiliki. Aku harus menyatakan perasaanku nanti pada saat UN berakhir. Agar aku dan dia dapat fokus terlebih dahulu pada ujian, sehingga dia tidak memiliki alasan ‘ingin fokus ujian’ kalau nanti dia ingin menolak perasaanku.

Tania

April 2013

Huaaa. Akhirnya lega juga. UN sudah selesai dilaksanakan. Dan kini saatnya aku melanjutkan membaca novel-novelku yang selama ini aku biarkan menumpuk. Lebih baik aku membacanya di perpustakaan. Semoga saja Rendi ada disana. Terserah deh dia lagi ngapain. Yang penting aku bisa lihat dia, walaupun cuma sebentar.

Lucky me! Dia ada. Tapi saat ini dia bukannya sedang tidur, melainkan sedang membaca majalah otomotif yang disediakan perpustakaan. Langsung saja aku duduk di di meja yang berseberangan dengan mejanya berada. Kuletakkan tumpukan novelku dan aku mulai mengambil novel pertama yang akan aku baca.

Baru membaca beberapa halaman, aku merasa seperti sedang diperhatikan. Ketika aku menoleh kedepan, aku melihat Rendi sedang memperhatikanku. Sepertinya sejak aku datang tadi, dia sudah menyadari kehadiranku di sini. Tapi kenapa dia memperhatikanku terus ya? Apa ada yang salah dengan wajahku sekarang? Perasaan tidak ada yang salah deh.

Lalu tiba-tiba saja dia bergerak dan pindah menuju kursi di hadapanku. Sekarang kami sudah duduk berhadap-hadapan. Dengan anehnya dia langsung menyunggingkan senyum terlebarnya kepadaku. Biasanya aku melihat senyum itu dari jauh, ketika dia sedang mengerjai teman-temannya. Dan kini aku yang mendapatkan senyum itu. Apakah Rendi sedang ingin mengerjaiku?

“Hai Tan, gimana UN-nya? Lancar kan?” tanyanya. “Eh lupa. Ya pastilah. Kamu kan pintar.” Sambungnya tanpa mendengar jawabanku.

Wah tumben dia ngajak ngobrol.

“Iya lancar ko. Eh tumben kamu ngajak aku ngobrol. Biasanya kan sukanya marah-marahin aku waktu bantuin aku beresin buku aja.”

“Ih orang ngebantuin ko malah dibilang marah-marah sih? Aku kan baik tuh selalu bantuin kamu yang suka ceroboh ngejatuhin buku-buku di perpus. Emm, sebenarnya aku mau ngomong sesuatu sama kamu, Tan.”

“Ngomongin apa, Ren?”

“Mungkin memang selama ini interaksi kita cuma terjadi saat aku ngebantuin kamu beresin buku-buku yang kamu jatuhin. Tapi jujur ya Tan, sebenarnya aku punya perasaan yang lebih daripada sekedar penolong atau teman kamu di perpus. Aku suka sama kamu.”

What? Rendi suka sama aku? Tidak mungkin.

“Hei Ren, jangan bercanda dong kamu.” Jawabku dengan agak ketus. Dia pasti sedang bercanda. Karena selama ini aku bahkan tidak pernah merasa diperhatikan bahkan untuk disukai seorang Rendi Wijaya pun tidak pernah.

“Siapa bilang aku bercanda Tania? Oh mungkin karena menurut kamu aku ngerjain orang, makanya kamu berpikiran seperti itu, kan?”

Well, bisa dibilang seperti itu. Tapi aku hanya bergeming, tanpa berani menjawabnya.

“Oke mungkin kamu penasaran sejak kapan aku suka sama kamu Tania. Baik akan aku ceritakan. Tapi janji kamu jangan marah.” Sambung Rendi.

“Baiklah. Ayo ceritakan” jawabku penasaran.

“Waktu kita masih kelas X, aku ingin mengerjakan hukumanku di perpustakaan. Aku menemukanmu tertidur di sana. Awalnya aku ingin mengerjaimu dengan melepas kacamatamu. Tapi  setelah aku melepas kacamatamu, ada sesuatu yang bergemuruh dalam dadaku saat aku melihat wajah polosmu yang tertidur. Saat itu aku tahu aku jatuh cinta padamu. Dan aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak mencium bibirmu yang begitu menarik di mataku. Tapi aku mencium kamu cuma sebentar. Walaupun karena itu aku semakin tergila-gila padamu.”

Oh my God! Apa katanya? Dia menyukaiku sejak kelas X? Dan dia sudah pernah mencium bibirku ketika aku sedang tidur? Berarti selama ini cintaku tidak bertepuk sebelah tangan? Rendi benar-benar penuh kejutan. Aku tidak bisa lagi menyembunyikan rasa bahagiaku. Langsung saja aku tarik kepalanya dan mencium bibirnya. Biar saja menjadi skandal di sekolah. Aku tidak peduli. Aku benar-benar menyukai Rendi.

Setelah melepas ciuman tadi, kulihat matanya agak terkejut. Spertinya dia membutuhkan pencjelasan atas aksiku yang tiba-tiba seperti tadi. Aku berkata, “Ren, asal kamu tahu ya, aku sudah suka sama kamu sejak acara MOS angkatan kita. Aku suka sama sikap kamu yang melakukan sesuatu yang kamu mau, tanpa memperdulikan apa kata orang. Kamu tetap jadi diri kamu dan aku sangat suka itu. Karena sejak kecil, aku selalu melakukan hal-hal yang diinginkan oleh orang tuaku. Sampai aku ketemu kamu, aku mau seperti kamu. Tapi sepertinya memang inilah diriku. Tania Rahardja yang selalu belajar. Malahan dengan itulah aku berusaha menarik perhatian kamu. Supaya kamu bisa kenalin aku sebagai seorang Tania.” Jawabku serius.

Dia terdiam. Kulihat matanya menatapku lekat, lau menggenggam tanganku sambil berkata, “Tania, kamu ngomong gitu jadi pengen aku nikahin.”

“Rendiiiiiiiiiii!!!!!”

Advertisements