urlReza. Lelaki satu-satunya yang menjadi inspirasi hidupku, kini sedang patah hati. Yes, He’s broken. Dia patah hati karena ditinggalkan oleh tunangannya yang bernama Nilam, yang memilih untuk hidup bersama dengan sahabat sejak masa kecilnya, Shen. Sejak awal aku sudah tahu kalau tunangannya itu terlalu dekat dengan sahabatnya. Tapi, aku bisa apa. Reza terlalu mencintai Nilam. Dan Reza hanyalah sosok yang takkan pernah terjangkau olehku karena aku bahkan bukanlah orang yang dia kenal. Ya, aku hanyalah seorang pengagum rahasianya—atau bisa dibilang stalker sejatinya. Namun, sepertinya kegiatanku sebagai stalker akan terhenti. Karena kini Reza ada di dekatku. Dan hanya ada kami berdua yang ada di tempat, saat ini.

Untuk memulihkan hati dan perasaannya—mungkin juga jiwanya—Reza mengikuti paket tur ke Medan. Aku tahu itu dari status update twitter-nya. Aku langsung ikut peket tur yang sama dengannya. Kebetulan orang tuaku tinggal dari sana, jadi lumayan sambil pulang kampung. Dari bandara sampai ke kota Medan, yang ada di mataku hanyalah Reza. Dia terlihat murung, karena mulai dari tadi matanya hanya memandang keluar jendela. Bahkan dia tidak menyadari bahwa aku yang duduk dibelakangnya terus memandanginya dari celah kursi. Ya Tuhan, aku ingin sekali mengubah wajah yang sedih itu menjadi wajah bahagia. Tapi bagaimana caranya? Dia bahkan tidak mengenalku.

Mungkin inilah jawaban Tuhan padaku. Aku dan Reza kini berada di pinggir Danau Toba, duduk saling berjauhan. Kami ditinggalkan oleh bus penyelenggara tur ini. Mungkin mereka mengira kami sudah masuk dalam bus karena mereka tidak melihat siapapun lagi di area pengunjung Danau Toba. Padahal saat itu kami berdua sedang duduk dibawah pohon yang daunnya lebat sampai-sampai kami tidak terlihat oleh orang-orang. Aku tahu alasan Reza memilih duduk disitu. Selain karena dari sudut itu bisa melihat pemandangan Danau Toba yang menakjubkan, tempat itu pun sunyi, sehingga dapat menjauh dari hingar-bingar keramaian pengunjung. Ketika aku sadar bahwa kami sudah ditinggal oleh bus kami, aku pun langsung menyadarkan Reza dari lamunannya.

Reza langsung menelepon penanggung jawab tur. Ternyata bus kami sudah sampai di hotel yang ada di Tarutung, cukup jauh dari lokasi kami sekarang. Supir busnya pun langsung menjemput kami setelah menurunkan anggota tur lainnya ke hotel. Reza yang sadar bahwa orang yang bernasib sama dengannya ini adalah seorang perempuan, barulah dia mengajakku maju ke pinggir danau, yang dapat dilihat orang.

Karena hari sudah malam, tentu saja badanku kedinginan. Bayangkan saja seorang perempuan memakai dress selutut, sedang duduk di pinggir Danau Toba yang dingin. Mungkin hari selanjutnya aku akan ditemukan meninggal karena sudah beku. Menyadari hal ini, Reza pun mendekat dan menawarkan syal yang sebelumnya melingkar di lehernya kepadaku. Dengan senang hati aku menerima syal itu dan mengalungkannya di leherku. Kini aroma Reza yang lembut dapat tercium bebas olehku. Namun, ucapan Reza selanjutnya begitu mengejutkanku.

“Kamu kenapa mengikutiku?”

Ya Tuhan! Dia sadar. Jelas saja. Siapa yang tidak sadar kalau seharian penuh kamu selalu diikuti seseorang padahal kamu sedang ingin sendiri. Dengan terbata-bata aku menjawab, “Siapa yang mengikutimu? Kebetulan aku memang ingin ke tempat yang sama denganmu.”

Apakah ucapanku barusan dapat dia percaya? Oh Tuhan bantu aku memberikan alasan yang lebih tepat lagi. Tapi sepertinya, ucapannya selanjutnya akan membuatku mati terkejut.

“Sudahlah. Aku tahu kamu mengikutiku sejak dari bandara tadi. Kamu memandangiku dengan intens seolah-olah kamu sudah mengenalku lama. Sebenarnya kamu siapa? Apa kita pernah bertemu?”

Oh Tuhan! Inilah saatnya aku mengatakan yang sebenarnya.

“Iya. Kita pernah bertemu. Mungkin kamu sudah tidak ingat lagi. Tapi aku ingat. Kita pernah bertemu ketika aku masih SMP. Waktu itu aku sedang dibully oleh geng perempuan satu sekolahku di persimpangan jalan. Kamu datang menolongku dan mengaku-ngaku sebagai abangku. Setelah itu, kamu mengatakan padaku bahwa aku harus kuat dan jangan mau ditindas. Sejak saat itu aku menjadi berani melawan mereka dan mereka berhenti menggangguku. Dan sejak saat itulah aku selalu menunggu kehadiranmu di persimpangan jalan yang sama, berharap dapat bertemu denganmu lagi. Namun kenyataannya tidak pernah. Sampai akhirnya aku melihatmu dengan Nilam, teman satu SMA-ku, sedang berjalan di Mall. Aku langsung mencari tahu tentangmu dari Facebok dan Twitter Nilam dan mendapatkan kenyataan bahwa kamu dan Nilam sudah bertunangan. Aku patah hati. Tapi sekarang, kamu dan Nilam putus. Dan aku kembali memiliki kesempatan untuk mengejarmu. Mengejar seorang Reza yang sedang patah hati.”

Aku mengucapkannya tanpa memandangnya. Aku terlalu grogi untuk mengucapkan kebenaran yang tak tersampaikan ini di depan wajahnya. Setelah itu, kupandang wajahnya yang terlihat terkejut itu. Berharap dia mau menanggapi semua ucapanku.

“Terima kasih atas perasaanmu padaku. Jujur aku tidak mengenalmu. Tapi, sepertinya perjalanan ini akan membuatku belajar untuk mengenalmu lebih dalam lagi. Biarkan hubungan ini berjalan pelan-pelan. Karena hatiku masih belum sembuh dari luka.” jawabnya.

Pelajarilah aku semaumu Reza. Dan tenang saja. Lukamu akan kututup dengan perban cintaku. Cinta yang akan selalu menemanimu kapanpun, ucapku dalam hati. Namun aku hanya bisa tersenyum padanya.

Setelah itu, bus kami datang menjemput. Kami pun naik dengan perasaan yang tak sabar menunggu hari esok.

Advertisements